Mengamati Raksasa yang Tertidur

Indonesia memiliki banyak gunung berapi. Gunung berapi tersebut tersebar di pulau-pulau yang ada di Indonesia salah satunya di Pulau Jawa. Dahulu kala pada dekade 1800 ada satu gunung yang memiliki tingkat keaktifan yang paling tinggi diantara gunung-gunung berapi lain yang ada di Pulau Jawa. Gunung tersebut bernama Gunung Guntur. Gunung Guntur adalah sebuah gunung berapi bertipe stratovolcano yang terletakdi Sirnajaya, Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung Guntur memiliki ketinggian dua ribu dua ratus empat puluh sembilan meter diatas permukaan laut. Yang istimewa dari gunung ini adalah setelah letusan pada tahun 1847 gunung Guntur mengalami penurunan aktifitas. Apakah ini tanda bahwa Gunung Guntur tidak beraktifitas lagi atau kemanakah energi yang hilang selama dua setengah abad yang lalu?

Timbul pertanyaan-pertanyaan menarik terkait menurunnya aktifitas Guntur semenjak letusan pada tahun 1847. Bagaimana cara mengetahui apa yang terjadi pada Guntur saat ini? Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang terjadi pada Guntur saat ini salah satunya adalah metode deformasi. Metode deformasi digunakan untuk mengetahui pola dan kecepatan deformasi permukaan gunung api secara horisontal maupun vertikal. Prinsipnya, deformasi berupa penaikan (inflasi) ataupun penurunan (deflasi) permukaan tanah. Inflasi umumnya terjadi karena proses gerakan magma ke permukaan yang menekan permukaan tanah di atasnya. Kemudian dari data deformasi yang ada dapat terungkap karakteristik aktivitas magmatik, termasuk lokasi dan pusat tekanan, dan juga volume muntahan magma jika terjadi letusan.

Pengamatan perubahan permukaan tanah ini dapat dilakukan dengan berbagai sistem, salah satunya memanfaatkan teknologi global positioning system (GPS). Dengan teknologi GPS kita dapat mengamati perubahan tanah secara periodik. Dengan materi kuliah GNSS dan juga Deformasi kita dapat mengetahui aktifitas dari gunung Guntur dan menganalisa pergerakan dari gunung tersebut.

Pengukuran dilakukan pada dua titik yang berada pada dualokasi yang berbeda. Titik pertama terletak pada kaki gunung Guntur dan titik yang kedua terletak pada puncak 3 gunung Guntur. Selain mengukur, tim survey membangun Benchmark titik pengukuran tempat GPS akan diletakkan. Pada hari pertama tim berangkat dari basecamp dan mulai mendaki ke titik pertama. Sesampainya pada titik pertama tim mulai melakukan pengeboran pada batu yang akan dijadikan letak berdirinya alat (GPS). Setelah alat sudah terpasang dan merekam tim dibagi dua dengan komposisi 2 orang menjaga titik pertama dan 7 orang menuju titik kedua. Pada sekitar pukul 17.00 tim sampai pada titik kedua dan langsung melakukan pengeboran pada batu yang akan dijadikan letak berdirinya alat. Kemudian alat mulai dipasang dan merekam. Pada hari kedua perekaman alat dihentikan dan tim kembali ke basecamp.

Kegiatan yang dilakukan pada Gunung Guntur merupakan pengaplikasian secara nyata keilmuan Teknik Geodesi dan Geomatika. Dengan mengaplikasian ilmu Teknik Geodesi dan Geomatika maka dapat membantu mengamati fenomena alam yang terjadi pada suatu gunung api. Data yang diambil juga dapat menjadi pertimbangan terkait resiko bencana alam.

– Tiga Belas Empat Enam